Senin, 12 Maret 2012

CEPU


Cepu yang menawan, bagaimana mungkin aku tak mencintaimu...? betapa aku bangga padamu.. betapa aku marasa tersanjung menjadi bagian dari dirimu, betapa aku  merasa berharga ketika aku mengatakan bahwa aku terlahir di Cepu, dengan bangga aku mengatakan bahwa rumahku adalah Cepu, ketika ada orang bertanya dari mana aku, dengan mantap aku katakan Cepu.

Bagaimana mungkin aku tak bangga padamu... beberapa tahun yang lalu, semua hal ada padamu.. Kata orang kau adalah miniatur Jakarta. Sampai-sampai ada orang berkata “Kalau ingin tahu Jakarta, ga usah jauh-jauh pergi ke sana, cukup lihat Cepu.”  Banyak orang dari luar daerah yang datang dan kemudian menetap padamu.

Begitu dahsyatnya engkau, sampai-sampai hampir semua orang mengenalmu. Engkau lebih dikenal dari pada Blora sebagai Ibukota, maupun Bojonegoro sebagai kabupaten yang berbatasan langsung denganmu.

Aku akui, sebagai kota kecil, rahmat Allah ada pada dirimu.. sumber daya alam, setidaknya hasil minyak bumi dan kayu jati terbaik ada dalam pengelolaanmu.. bengawan solo-pun mengalir dan melintasimu.. bisa dibayangkan dampak dari hal itu seharusnya luar biasa, baik dari segi ekonomi dan devisa, peradaban dan gaya hidup, maupun pendidikan.

Secara ekonomi, engkau menjadi daerah yang membanggakan. Bank-bank justru lebih banyak padamu dari pada Blora, bahkan diantaranya menjadi cabang, dan Blora sebagai cabang pembantu, termasuk dua bank plat merah, BNI dan bank Mandiri. Kalau tidak salah, di seluruh Indonesia, BNI hanya memiliki 2 cabang di kecamataan dan ibukota kabupaten sebagai pembantu cabangnya, salah satunya adalah Cepu (karena semua cabang ada di kabupaten, dan kecamatan sebagai pembantu cabang). Cepu menjadi cabang, dan Blora sebagai pembantu cabang, demikian pula dengan bank Mandiri, Cepu sebagai cabang, dan Blora sebagai pembantu cabang. Lain lagi dengan bank Muamalat, bank yang termasuk ditunjuk untuk mencairkan bantuan dari pemerintah (yaitu fungsional untuk guru di lingkungan kemenag) ini, satu-satunya kantor ada di Cepu, bukan di  Blora. Dan sebagainya.

Meskipun sebagian daerahmu tandus, tetapi engkau bersandingan dengan bengawan solo, yang menjadikan daerah yang lain menjadi subur dan dapat membentuk penghasilan sendiri dengan komposisinya seperti air, pasir, dan sebagainya. Seharusnya ini dapat mendorong masyarakatnya untuk memiliki peradaban yang lebih baik. Mungkin karena ini pula ada saja pemborong yang terlahir darimu.

Dari segi perdagangan, kata orang kau menjadi surga berdagang, karena apa saja yang dijual pasti laku. Secara pribadi, aku bangga padamu karena aku merasa bukan orang cina yang menguasai perdagangan-mu, tetapi orang-orang kita. Banyak orang dari luar daerah tetangga yang datang untuk kulaan di Cepu pada kita orang etnis Jawa, kalau kita melihat-melihat deretan pertokoan, aku merasa perdangangan kita dikuasai orang pribumi.

Pasar, satu kelurahan cepu saja, lebih dari 3 pasar kita miliki, mulai pasar pagi di Jalan Raya dekat pasar buah, pasar plaza, dan pasar induk. Belum lagi orang berjualan dari ketapang hingga plaza, dan taman seribu lampu yang kemudian menjadi icon-mu.

Untuk layanan kesehatan, mulai bidan dan dokter, puskesmas, apotik, dan rumah sakit. Setidaknya lebih dari 10 apotik dan 5 rumah sakit kau miliki, mulai Rumah Sakit Umum milik pemerintah, rumah sakit PPT Migas, rumah sakit Muhammadiyyah, rumah sakit NU, dan rumah sakit Bagas. Dengan ini, harusnya engkau menjadi rujukan orang-orang di sekitarmu..

Dari segi transportasi, meskipun engkau dikelilingi hutan dan susah dalam transportasi, namun apa yang tidak engkau miliki? Barmacam travel dan terminal punya, konon terminalmu lebih besar dari pada Blora, hal itu terasa wajar mengingat engkau merupakan daerah persimpangan ke kota-kota lain di sekitarmu seperti Ngawi, Bojonegoro, Tuban, Blora, Randublatung, Purwodadi, dan Rembang. Stasiun juga ada, dan bukan stasiun kecil, karena menjadi transit kereta-kereta ekskutif, bahkan ada yang mengatakan stasiunmu lebih besar dari pada Bojonegoro. Bandara juga telah digembar-gemborkan untuk mulai dirintis. Kau telah memiliki landasan pacu, katanya hanya dibutuhkan terminal (pos-pos penjualan tiket dan ruang tunggu) dan waktu untuk peresmian. Wacana bandara di Ngloram-Cepu ini menjadi salah satu penyebab dari melonjaknya harga tanah termasuk di wilayah Kapuan, Merah, Tambak Romo, dan sebagainya. Siapa yang tidak bangga, daerah yang dihuni memiliki bandara.

Dari segi pendidikan, engkau memiliki bermacam-macam lembaga pendidikan, baik formal maupun non formal. Setidaknya terdapat 4 perguruan tinggi di Cepu. Setingkat kecamatan, memikili 4 perguruan tinggi, bukankah itu hal yang luar biasa? Banyak pelajar dari luar daerah yang balajar di Cepu dan mendapat beasiswa. Dulu ketika Abah Rifa’i masih hidup, saya sering melihat orang-orang yang tugas belajar di Cepu (Akamigas dan ATR), karena secara periodik beliau mengajak mahasiswa-mahasiwa itu ke Wonorejo untuk praktek. sungguh sangat menyenagkan. Bercermin dari itu, bisa dibayangkan sebanyak apa lembaga pendidikan dan seperti apa pendidikan di Cepu (baik pendidikan yang berkaitan dengan minyak bumi, maupun pendidikan pada umumnya), yang intinya pendidikan di Cepu memiliki ruang tersendiri untuk menjadi perhatian. Bahkan Orang pintar-pun konon banyak yang berasal dari Cepu. Prof. Maghfur Utsman dan Mukti Ali, menjadi salah satu contohnya. Dulu ketika saya masih menjadi mahasiswa S1, ketika mengikuti organisasi di Blora, ada yang bilang “orang-orang yang pintar itu, hampir pasti asalnya dari Cepu.” Mungkin karena merasa begitu berkualitasnya Cepu, (meskipun saya tidak setuju) saya pernah mendengar wacana untuk memisahkan diri dari Blora.

Dari segi prostitusi, saya memiliki keyakinan, parlahan tapi pasti engkau akan bersih dari hal itu. Karena 2 daerah yang pernah menjadi icon, (Lebok dan Sumber agung) banyak dari mereka yang mendapat pembinaan dan belajar mengaji. Deerah abangan dan mabuk-mabukan secara terang-terangan nampaknya akan sirna dengan iklim masyarakat yang semakin religius. Masa depan cerah karena keimanan nyaris ada di depan mata. Siapa yang tidak terharu melihat derahnya berangsur-angsur menjadi komunistas muslim sejati?

Tapi sekali lagi, kenikmatan yang saya paparkan di atas itu rasanya terjadi pada beberapa tahun yang lalu. Sekarang, kenapa ya saya merasakannya kok tidak demikian...?

Cepu yang terkenal kaya akan minyak kini seolah ‘dikuasai’ Bojonegoro. Dalam kenyataannya memang kandungan minyak bumi itu memang lebih banyak di Bojonegoro dan Tuban, sehingga sahamnya pun lebih dibanyak dari kawasan Jawa Timur. Belum lagi exsploitasi minyak itu memang terjadi di Bojonegoro, tepatnya Banyu Urip. Sedangkan Blora atau Cepu sendiri belum melakukannya. Hal ini mau tak mau berdampak pada pembagian hasil dari minyak itu. Jika dirinci (kalau tidak salah) pembagian itu dapat dijabarkan sebagai berikut: Gros Produk dikurangi FPT 10%, kemudian 90%-nya digunakan untuk recapcost sebesar 25%, baru sisanya dikatakan nett product. Dari nett product ini dibagi dua untuk investor 15% dan untuk pemerintah 85%. Dari investor yang 15% itu dibagi 3, yaitu untuk BUMD 10%, pertamina 45%, dan Exson 45%. BUMD yang 10% itu dibagi pada daerah penanam saham, yakni Blora 2,1%, Jawa Tengah 1,2%, sisanya 6,7% untuk Bojonegoro dan Jawa Timur. Nah, jatah pemerintah yang 85% dari hasil nett produk itu dibagi 2, yaitu untuk pemerintah pusat 85% dan untuk daerah yang diexploitasi 15%. Karena derah yang diexsploitasi saat ini adalah Bojonegoro, maka 15% itu untuk Bojonegoro dan Jawa timur dengan pembagian 3% jawa timur, 6% Bojonegoro sebagai kabupaten yang diekspoitasi, dan 6% dibagi rata untuk seluruh kabupaten yang berada di Jawa Timur, sedangkan Blora dan jawa Tengah, karena belum diekspoitasi, maka untuk bagian pemerintah, tidak mendapatkannya. Dengan demikian (lagi-lagi kalau tidak salah), seandainya dari 10.000.000, maka pembagian Blora dan Jateng secara keseluruhan adalah sekitar 3.345, sedangkan Bojonegoro dan Jatim sekitar 866.700.

Agar Cepu, dalam hal ini Blora mendapat devisa yang lebih dari hasil minyak itu, maka exspoitasi juga dilakukan di wilyah ini. jika exkpoitasi diwilayah Giyanti berhasil, maka nantinya Blora tidak hanya mendapat jatah dari (pembagian) investor saja, tetapi juga dari (pembagian) pemerintah, selain itu seluruh kabupaten di Jawa Tengah juga dapat menikmatinya.

Dari segi hutan, Cepu yang terkenal dengan kualitas kayu jati terbaiknya, kini kalah dari segi SDM dari Jepara. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa kayu jati disini konon yang paling berkualitas, namun orang jepara jauh lebih pintar untuk mengelola kayu apa saja. Apalagi kayu jatimu disini adalah milik kementrian kehutanan, semua yang bersinggungan dengannya, menjadi wewenang kementrian kehutanan pusat sehingga Blora hanyalah tempat, yang kalau ‘meminta’ kayu untuk keperluan pembangunan kantor pemerintahan daerah saja, harus izin pada si empunya hutan, yakni Kemenhut. Tetapi kita bisa kan menanam sendiri kayu jati itu untuk kemudian dikelola, meskipun itu butuh puluhan tahun untuk mewudkannya.

Dulu kalau dari Blora akan masuk Cepu, terasa lebih rindang dengan hutan pohon jati, seolah itu menjadi kenyamanan hati, kini rasanya kerindangan itu telah berkurang setelah sekitar 2009 ahir atau 2010 awal silam, ketika angin menumbangkan ribuan pohon jati. Kalau kita kembali mengingat masa itu, ada yang aneh dengan kejadian itu. Saya melihat sendiri ketika ternyata yang tumbang hanyalah pohon jati, tetapi rumah penduduk tidak. Tidak ada rumah yang roboh atau tertimpa pohon, kalaupun ada rumah yang rusak, itu sebagian kecil dari atap rumah itu. Secara logika, rumah dan pohon jati, seharusnya lebih kuat pohon jati. Bisa dikatakan, tidak ada kendaraan dan manusia yang menjadi korban. Konon, ada seorang pegawai perhutanan yang malam itu hendak pulang, dalam perjalanannya pohon itu tumbang sebelum ia melintas, sehingga ia dapat menghindari, atau setelah ia melintas, sehingga ia seperti diselamatkan. Sungguh, saya merinding mendengar cerita itu. Ini merupakan keajaiban. Memang, Saya melihat satu truk yang rusak, di bagian depan, tetapi dalam keadaan kosong, sehingga tidak membawa korban. Memang, katanya ada satu orang yang meninggal, orang itu hendak ‘mencuri’ kayu yang tumbang, dihanyutkan ke sungai lalu dia naik di atasnya (ini merupakan taktik tradisional masyarakat yang mencuri kayu), namun nahas, dia tidak kuat bertarung dengan alam, yang ahirnya tewas. Dari kejadian ini, mungkin ini teguran dari Allah untuk oknum penguasa, yang saya sendiri tidak tahu mereka ‘dosa’ apa, dan penyelewengan apa yang mereka lakukan dalam mengelola daerah/negeri ini. Serta untuk oknum masyarakat yang ‘mencuri’ kayu agar menjadi pelajaran, hal itu jangan dilakukan lagi.

Dari segi bengawan, keberadaan Bengawan solo sering kali menjadi petaka karena banjir di musim penghujan, namun keberadaan bengawan solo dapat menjadikan daerah sekitarnya menjadi subur dengan program irigasi dan dapat membentuk penghasilan sendiri dengan komposisinya seperti air, pasir, dan sebagainya. Lebih lanjut, mungkin bengawan solo dapat dimaksimalkan untuk menjadi tempat wisata (tentunya selain wisata hutan jati dengan keretanya dan sebagainya). Apalagi semenjak dibangunnya tanggul, kini telah muncul warung di atas tanggul, dan menjadi tempat nongkrong anak muda. Menikmati indahnya bengawan solo bagi saya dapat menjadi penghibur tersendiri, mungkin akan lebih indah jika kemudian dimaksimalkan sebagai tempat wisata yang menghasilkan devisa.

Dari segi ekonomi, surga belanja yang ada dikawasanmu, parlahan kok aku merasakan kepudarannya ya.. kenapa aku merasa engkau saat ini mulai di kuasai etnis Cina. Keberadaan Bravo nampaknya juga berpengaruh pada padagang terutama pedagang yang biasa digunakan untuk kulaan. Dulu orang kulaan baju, kain, buku, sandal, kosmetik, jajan, dan sebagainya banyak di Cepu, tetapi kenapa ya sekarang aku kok merasa berkurang. Kualitas fashion, elektronik, kuliner, dan sebagainya aku merasa Bojonegoro, Madiun, Jombang dan daerah lain telah menyaingimu. Kenapa ya aku merasa ada yang kurang darimu. Keberadaan bank juga kurasakan tidak sebergairah dulu.

Dari segi layanan kesehatan, yang terpenting dari layanan kesehatan menurutku adalah tindakan cepat dan tepat untuk pasien, serta pelayanan yang ramah untuk pasien dan keluarganya. Kenapa ya, kok aku merasa engkau kalah dengan Bojonegoro (apalagi Padangan-pun sekarang telah memiliki rumah sakit). Hal itu membuat masyarakatmu banyak yang lari  untuk berobat ke sana. Apalagi dokternya pun lebih banyak di sana, sehingga berakibat pasokan obat di apotik juga terasa lebih lengkap di sana. Engkau telah memiliki segalanya, memanfaatkan dengan maksimal itu sangat kami tunggu. Bukan hanya berakibat pada devisa, tetapi merupakan kebanggaan tersendiri bagi kami ketika berobat di daerah sendiri.

Dari segi transportasi, terminalmu meskipun tergolong baru diperbaiki, namun mengapa ya rasanya kok sepi tanpa ada banyak jadwal bus, bahkan sekarang jadwal bus dari Bojonegoro menuju Cepu atau sebaliknya terkesan tidak ada jadwal, itu semakin terasa mengacaukan. Stasiun yang dulu terkesan lebih besar, nyatanya kini terasa lebih besar dan jauh lebih ramai stasiun Bojonegoro. Bandara yang seolah tinggal selangkah untuk diresmikan, nyatanya sekarang justru Bojonegoro-lah yang hendak memiliki. Wacana Bojonegoro untuk mendirikan bandara di kecamatan Dander Bojonegoro, saat ini lebih santer terdengar. Walaupun naampaknya kita lebih siap untuk itu karena kita telah memiliki lahan dan sebagainya, sedangkan kalau di Dander, ‘katanya’ pemkab Bojonegoro harus membebaskan lahan terlebih dahulu dan memulai semuanya dari nol. Tetapi mengapa mereka lebih ‘bisa’ dari pada engkau? 

Dari segi prostitusi, tempat-tempat yang disinyalir sebagai tempat prostitusi kini perlahan-lahan telah berbenah. Banyak ‘pelaku’nya yang mulai belajar agama dan mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan, itu yang harus ditingkatkan. Tolong jangan biarkan prostitusi dan kemaksiatan menjamur, tolong jangan legalkan hal-hal itu,  tolong jangan justu kau kembangkan prostitusi dan kemaksiatan agar menjadi lebih besar lagi.. tolong.. tolong.. tolong.. tolong.. dan tolong…

Demi terwujutnya masyarakat yang makmur, tentram, dan bermartabat. Bagaimanapun kita membutuhkan pendidikan masyarakat secara tekstual dan kontekstual, secara teori maupun praktek. Apa jadinya kalau masyarakatmu berpendidikan dan maju, tetapi moralnya dipertanyakan, semua itu untuk menuju masyarakat agar menjadi insan kamil.

Cepu, rasanya engkau memiliki segalanya, memanfaatkannya dengan maksimal itu sangat kami tunggu. Mencari dan menggunakan devisa yang halalan tayyiban bukan hanya menentramkan dan membanggakan kami, tetapi merupakan kebutuhan.

Cepu, aku cinta padamu, tetapi saat ini aku dalam keadaan dilema dalam menghadapimu.

5 Maret 2012

2 komentar:

  1. wahhhhh,,,semua orang taunya minyak itu milik blora,,,ternyata lebih banyak ke bojonegoronya...ayo di eksploitasi sendiri aja biar blora makmur,,hehehehe

    BalasHapus
  2. Ya betul..kini cepu dan blora memang tertinggal jauh dr bojonegoro..baik dr segi infrastrukturnya maupun tingkat kesehjahteraan warganya..hrs di akui kini bojonegoro tlah berkembang pesat.pembangunan di sana sini.hotel dan mall menjamur di bojonegoro..sedang cepu blora msh jalan di tempat.gk beranjak dr ketertinggalanya..

    BalasHapus